Mengapa Pisau ??

Pisau...
beberapa mengasosiasikan pisau dengan kejahatan, dunia hitam dan lain sebagainya. tapi percaya atau tidak, pisau telah membawa manusia ke tingkat peradaban yang lebih tinggi. Sejak pisau primitif pertama dibuat, pisau telah menjadi teman bagi manusia. Dengan pisau manusia primitif menemukan lebih mudah untuk mengumpulkan bahan makan. Melalui pengembangan teknologi bahan pisau, pisau kemudian ditemukan dalam berbagai bahan, kayu, batu, perunggu, perak, besi, ceramic metal, api, air.....ya... bahkan api dan air telah dapat dibuat menjadi pisau.

Akhirnya pisau telah menjadi teman hidup manusia. setinggi apapun teknologi yang ada , tingkat keindahan seni, selalu tergambarkan dalam pisau.
Fungsi pisau pun beragam, sekedar dari pemotong kertas, berburu, hiasan, pemotong baja, sampai simbol pengangkatan kepala pemerintahan.
Beribu buku telah terbit, beragam ilmu yang terlibat, ribuan orang menjadi fans,.. tetapi tetap saja... selalu berhati-hati dengan pisau.

Barlen, Sejarah Dan Cerita (Introduction)


“Jadi seperti apa sejarah Barlen ?”
Pertanyaan sederhana yang menjadi awal catatan ini. Berbekal pertanyaan itu beberapa nomor telepon disiapkan, catatan kembali dikeluarkan dan segala macam rencana berkecamuk dalam fikiran.
……
Bayangan seorang jawara dengan bedog terselip di pinggang kanan dengan sarangka yang berkilau memantulkan cahaya bulan purnama adalah kesan pertama saat membayangkan seperti apa jaman dahulu Bedog Barlen ini digunakan. Kesan yang menunjukkan bahwa tidak ada senjata yang concealed saat itu, Bahwa seorang Jawara akan bangga dengan kejawaraannya, bahwa dia akan mudah dikenali bahkan dari jarak jauh karena senjatanya. Setidaknya bayangan seperti itu yang muncul saat pertama akan menulis apa sih Barlen dan bagaimana sejarahnya.

Berbekal bayangan itu aku menemui seorang Maranggi di daerah Cimeuhmal Tanjungsiang untuk bertanya sejarah tentang Barlen ini sejauh yang dia ketahui.
Bapak Dudung namanya, yang saat ditemui sedang mengerjakan beberapa bedog barlen yang merupakan pesanan pengepul setempat.
Setelah menyelesaikan bedog terakhir pa Dudung, baru menggeser duduknya  sambil menanyakan maksud kedatanganku saat itu .
Ah.. duka atuh da anyar keneh, jaman emangna bapa mah teu diiket kieu da… kumaha weh simpay ngan kerep jeung tina kuningan dipatrian..
“Tidak tahu masih baru koq, jaman pamanya bapa (pa dudung) dulu tidak diikat seperti ini.. sama saja seperti bentuk simpay saja hanya (jaraknya) berdekatan dan (dibuat) dari kuningan yang dipatri...”

Bisa dibayangkan seorang yang hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk membuat berbagai macam sarangka bedog berkata seperti itu…. Hilang sudah bayangan jawara dibawah temaram sinar bulan itu.

Sejenak teringat tulisan tentang alat musik Karinding, yang pernah sedikit aku kupas lebih dari 15 tahun yang lalu, sebuah tulisan sederhana yang sampai saat ini masih tersisa jejak digitalnya, malah beberapa mahasiswa dan peneliti masih datang untuk menanyakan hal yang selalu harus aku jawab : “Maaf apabila ada kesalahan saat penulisan sehingga beranggapan apa yang ditulis saat itu adalah sebuah kebenaran..”

Nah perasaan ini yang mendadak muncul saat akan menulis tulisan singkat tentang Barlen, takut melakukan kesalahan yang sama akhirnya diputuskan untuk menulis agak panjang tentang barlen ini, dimana  tulisan ini  adalah pembukannya.

 
-->
Dalam postingan di media sosial kang Ellen Ramlan, yang juga ketua umum d’lempar pisau Indonesia memberikan pandangan lain tentang Barlen ini, menurutnya masyarakat sunda dalam pola hidupnya dikenal sebagai masyarakat ladang (gunung) yg sebagian nomaden (pola ini masih terlihat di Cipta Gelar), hasil artefak budaya darr masyarakat gunung ini umumnya sederhana baik dr sikap dan perilaku, berpakaian ataupun arsitektur. Inti dr kepercayaan adalah adanya harmoni dengan alam dan penguasa. Analisa sederhana dari Ellen Ramlan bahwa karakteristik Bedog Barlen sangat dipengaruhi oleh budaya luar sunda (hal ini juga bs dipahami mengingat Subang berada di wilayah jabar bagian utara, pengaruh ini sangat terlihat pd pengolahan perah dan sarangka yg dekoratif termasuk penggunaan material hiasannya yg bisa kita temukan pada golok/pedang timur tengah karena secara umum pengolahan sarangka di masyarakat tradisi sunda sangat sederhana yang didominan oleh bentuk maranggi (ukir) pd perah dan sarangka yg terdiri dari unsur flora, fauna ataupun stilasi dr keduanya, serta tambahan ikatan untuk sarangka dgn tali ataupun kulit kerbau ataupun tanduk.  Sejak kapan penggunaan kuningan menjadi tambahan dari Barlen ini ? Sepertinya akan seru untuk membahasnya lebih lanjut dengan Kang Ellen Ramlan.

Baru dari dua narasumber dan sekilas saja sudah terlihat keseruan didalamnya, dapat dibayangkan apabila menemui duapuluh, limapuluh atau seratus narasumber. Berbagai macam sudut pandang dan ilmu akan bisa digali. Ahh gatal rasanya tangan ingin segera menulis dan kaki ini ingin segera melangkah.

Tulisan yang belum memiliki kesimpulan ini semoga menjadi awal dari tulisan khusus  seperti apa sejarah dan bagaimana cerita yang ada pada Barlen. Tulisan ini akan ditulis berdasarkan penuturan narasumber dari berbagai kalangan yang berhubungan dengan bedog barlen ini. Meminjam ungkapan dari mang Kimung @kimscore semoga akan ditemukan keseruan dan benang merah dari ragamnya cerita tentang barlen ini.
Semoga

 
-->
 
-->

-->

-->