Memperkenalkan pisau kepada para pande besi

Sungguh saat mengingat judul ini saya selalu tersenyum sendiri, mengajarkan bagaimana cara membuat pisau kepada para pande besi sungguh merupakan sebuah pekerjaan yang luarbiasa menantang, terutama mengingat yang harus aku hadapi adalah mereka yang telah bergelut dengan pisau sepanjang hidup mereka. akhirnya dengan berbekal sedikit ilmu andragogi dariempunya yayasan Sekar Tanjung yang melaksanakan kegiatan ini acara pun dimulai dengan kata pembuka:" Punten, sim kuring didieu sanes bade ngajarkeun ngojay ka meri, teu kirang teu langkung mung bade naros saha anu kantos ngadamel peso sapertos kieu, (sambil mengangkat pisau buatan Victorinox) atanapi ieu, ieu, ieu (sambil berturut-turut mengangkat pisau buatan T Kardin, buatan Bah Ako, buatan Sanremu dan terakhir buatan saya sendiri). Dan untung tidak satu orang pun pande di sana yang pernah membuat setidaknya pisau yang menyerupai buatan saya.. jadi aman deh tinggal tambah satu pertanyaan lain " Siapa yang berminat untuk membuat pisau seperti ini ?" dan akhirnya saya dapatkan materi yang benar-benar mereka inginkan dan setiudaknya saya lebih dulu mengetahui teknik pembuatannya.
Para pande besi di daerah tangjungsiang sesungguhnya merupakan sumber daya yang patut dipertimbangkan dalam dunia pisau. akan tetapi kebiasaan pembuatan pisau yang tidak memperhatikan keinginan pasar mengakibatkan mereka terpuruk hanya mampu memproduksi pisau dengan harga 3000 rupiah perbuah dan 15.000 rupiah untuk pisau dengan ukuran besar.
Keinginan mereka untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan terutama saat penyelesaian selalu terbentur pada masalah kemana mereka harus mencari sumber ilmu tersebut. jarak yang jauh dengan pusat kota baik Bandung ataupun Subang, minimnya sumber informasi, dan permasalahan lain seperti keterbatasan waktu dan tentu saja pendapatan yang minim dari hasil membuat pisau ini bahkan membuat mereka berfikir bahwa  bukanlah merupakan pekerjaan yang menjanjikan apabila anak-anak mereka pun mengikuti jejak pekerjaan orangtuanya sebagai pande besi.
Hal inilah yang menggugah saya secara pribadi untuk sekedar mengingatkan bahwa di beberapa tempat, baik di Indonesia maupun di Luar negeri membuat pisau merupakan pekerjaan yang menjanjikan baik dari pendapatan maupun penghargaan. namun menuju ke arah sana membutuhkan pengorbanan lebih, lebih dari apa yang telah mereka lakukan, baik waktu, fikiran, dan usaha.
dengan bantuan Yayasan Cahaya Sekar Tanjung, proses peningkatan kualitas pisau di tanjung siang ini dimulai. dengan sedikit ilmu yang saya miliki, antusiasme para pande besi saya berharap setidaknya kualitas pisau Tanjungsiang akan meningkat, setidaknya pisau yang semula hanya berharga Rp. 3.000,- akan menjadi Rp. 15.000n- dan pisau dengan harga Rp. 15.000 akan menjadi Rp. 60.000,-. Peningkatan harga ini bukan  hasil simsalabim yang bisa dikerjakan hanya dalam sekejap mata. Akan tetapi membutuhkan pejuangan dan kesungguhan dari para pande itu sendiri. 
Untuk hal ini, semoga saya memiliki waktu dan kemampuan untuk mempertahankan keninginan dan cita-cita ini, setidaknya sampai saat semua orang menunjukkan jarinya saat diajukan pertanyaan :"Siapa yang pernah membuat pisau seperti buatan Victorinox"
cukup dulu untuk saat ini,.... istrahat sejenak sebelum melanjutkan langkah berikutnya
dan berikut beberapa gambar... semoga berkenan.









14 comments:

  1. dull~knife
    Mantap kang saatnya pande lokal berbenah... mereka punya potensi hanya mungkin kurang edukasi...
    lanjutkan perjuanganmu !!!
    salam pisau
    umbelmeler65@yahoo.com

    ReplyDelete
  2. @dull~knife
    masih ada yang dibutuhkan para pande, kemauan untuk menerima ilmu dan kemauan untuk berubah, secara umum pendapat mereka saat mengikuti kegiatan ini adalah ucapan "Saya juga bisa bikin yang gitu !".... dan untuk hal tersebut saya hanya bisa tersenyum saja.
    semoga saya bisa tetap dalam niat ini.
    terimakasih dukungannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Guru Uloh Yth
      Waduh kang, bener2 mengharukan sekali ya apa yang akang perjuangkan, pelatihan ini tentunya juga selain memberikan ilmu, juga tentunya memberi faedah manfaat yang besar sekali bagi para empu, juga dapat meningkatkan taraf hidup para pande besi, sesuai panggilan hati akang sebagai seorang Guru, semoga berkah Allah selalu menyertai akang dan keluarga,
      salam dari jauh...

      Delete
  3. Makasih tuan Djon...:D hanya berusaha berbagi ilmu yang tidak seberapa ini...:D salam juga...

    ReplyDelete
  4. sayang di daerah q, ngak ada seseorang seperti anda
    :(

    ReplyDelete
  5. ah siapa sih saya..:D.... berminat untuk bikin workshop ? lokasi dimana mungkin saya ada temen yg dekat dan bisa direkomendasikan.

    ReplyDelete
  6. Salam..
    kang punteun mau tanya, untuk daerah jawa barat benar ga ada kabar yang bilang kalo pengrajin dari desa cibatu sukabumi bisa dibilang salah satu yang paling terkenal?
    soalnya saya pengen beli kujang hias yang bener2 bagus dan bernilai seni tinggi..
    maklum ga tau banyak soal golok kang..he..he..
    trims..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo untuk kujang hias, selama pembuatnya bisa menghias sebagus-bagusnya, darimana pun bagus. Silahkan dicoba, cuman belum kenal yang bdari sukabumi nih,.. mudah-mudahan ada yang bisa bantu, kalau saya biasa beli dari Bah Ako di Tasik, atau bisa dicoba kang Dadan Hamdani dari Rancaekek.

      Delete
  7. Pernah punya pengalaman, pesan pisau desain sendiri dengan bahan stainless steel di saerah Kudus (nitip teman). Desain ukuran belati, setelah jadi eh seukuran gobang :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha... untuk kedepannya mending buat aja sendiri..:D... lebih puas dijamin

      Delete
  8. Salam Kenal,

    Saya sejak kecil suka sekali dengan pisau. Bukan karena sisi extrimnya tetapi karena kegunaan dan desain yang menarik.

    Sungguh suatu pembelajaran yang sangat baik untuk Pande Besi Tradisional (bukan Empu) untuk mempelajari teknik yang lebih efisien dan desain yg menarik, sehingga dapat menaikkan derajat Pande Besi Tradisional...

    Salut untuk Kang Gianjar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih,... semoga pembelajaran ini bukan yang terakhir..:D

      Delete
  9. punten baru tahu ada tread ini,didaerah pandeglang hampir sama kasusnya,tukang pande tradisional susah unt berkembang krn keterbatasan pengetahuan,relasi,pembinaan,modal dll,ironi yg menikmati hasil jerih payah tukang pande justru para tengkulak dan rentenir

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa seperti itulah kenyataan di lapangan, mereka yang mempunyai jejaring lebih luas yang menang...

      Delete